Ngeblog & Ngopi Bareng
Entrepreneur Story, Ngeblog, Startup

Ingin Jadi Founder & CEO? [baca cerita ini]

Jakarta 2021, tulisan ini saya buat sebagai refleksi akhir pekan yang tetap saja “tidak libur” ini membuat pikiran saya terkadang tidak sehat, susah membedakan kapan waktu bekerja dan kapan waktu untuk berlibur, malahan mungkin tidak ada waktu libur. saya ingin mengekspresikan pikiran saya malam ini dengan segelas kopi.

Jauh beberapa tahun lalu, saya ingin menjadi seseorang yang bisa membuat sesuatu yang mana sesuatu itu juga bisa dirasakan oleh orang lain, mungkin pada akhirnya serangkaian cerita mengarahkan saya pada industri teknologi, digital dan brand. dimana ternyata itulah yang menjawab pertanyaan saya selama ini. ketika saya memulai sebuah brand, saya merasa yang perlu dilakukan hanyalah lakukan dan lakukan saja terus menerus sampai menjadi sesuatu tanpa memikirkan banyak hal, tapi setelah semua itu bertumbuh saya merasa tidak bisa melakukan semuanya sendirian, dan disitulah semua masalah muncul.

Dimulai dari manajemen bisnis, people management, culture, visi dan misi dan entah apalah yang semua itu sebenarnya tidak perlu saya lakukan ketika awal saya membangun sebuah brand, dan saya berpikir semakin lama bukan semakin mudah tapi semakin sulit dan menguras tenaga. memang, itulah yang menarik yang akan saya bahas disini.

Mungkin waktu awal-awal, kita merasa semua yang kita lakukan adalah kita sukai, sesuka hati dan kapan saja kita mau, tapi setelah brand itu jadi sebuah bisnis maka disitulah aturan-aturan dan kalkulasi bermain, yang mana itu adalah aturan disebuah industri, mungkin bagi sebagian orang seperti saya yang basicly art science, terbebani dengan berbagai roles yang membuat saya sendiri tidak bebas berkreasi, tapi jika saya ingin bebas berkreasi harusnya saya tidak menjalankan pekerjaan ini, itulah pilihan.

Dulu saya berpikir, menjadi seorang founder yang berhasil membuat sebuah brand yang bisa bekerjasama dengan brand lain adalah sebuah goals yang saya impikan dimana goals itulah yang sekarang sudah ada saya jalani, tapi mengelola sebuah brand agar tetap baik dan hidup sekali lagi, tidak bisa dilakukan sendirian seperti waktu dulu. kenapa begitu? sayapun berpikir, kenapa ya beda dulu beda sekarang, ketika saya dulu bekerja sendiri dengan sekarang bekerja dengan orang lain, lebih banyak benturannya. saya mulai mencari buku-buku, mentor yang bisa menjawab permasalah saya tersebut dan akhirnya bertemulah dengan beberapa aspek sebagai berikut :

Apakah saya tidak bertemu team yang tepat, apakah saya kurang fokus dengan 1 bisnis, atau apakah ada kesalahan yang saya belum tahu solusinya. tapi semua itu bermula dari 1 hal yang saya sadar dan saya tahu, yaitu : team.

Saya menyadari, bahwa tim dalam sebuah bisnis itu sangat penting, bisnis = band. dimana tanpa ada pemain maka jadilah solois. itulah kenapa solois akan lebih mudah kemana-mana dibanding membawa band, sebut saja ketika kita ingin membuat sebuah lagu, jika kita punya team kita akan menghabiskan waktu untuk memikirkan konsep, diskusi apakah konsepnya sama-sama kita sukai sehingga proses yang seharusnya lebih singkat itu diisi oleh beberapa aspek yang tujuannya “menyatukan visi misi team” sehingga waktu dan energi sudah capek dan habis, untuk memikirkan intisari dari sebuah tujuan utama band tersebut berdiri, apa tujuan utamanya? buat lagu yang bagus.

Karena sudah banyak gesekan ini dan itu, akhirnya lagu yang dibuat sudah berupa remah-remah yang tidak seoriginal awalnya, meskipun semua itu bisa dbangun tapi rasa dan kualitasnya akan sangat berbeda, nyawanya berbeda istilahnya. sampai disitulah prosesnya berjalan.

Semua yang diatas itu adalah proses pembentukan tim, pembentukan lagu dan juga band. belum tentang bagaimana lagu itu dijual, dipasarkan dan pembagian royalti.

Lalu, apa hubungan judul saya diatas?

Hubunganya adalah, Founder dan CEO adalah orang dibalik layar yang bertugas untuk mengadakan sebuah inisiasi, idea lagunya apa, nama bandnya apa, hingga visi misi band itu dibentuk sampai bagaimana band tersebut bisa menjual lagunya ke pasaran.

Jadi, ibaratnya, seorang founder pun CEO, pada awalnya dialah yang merangkai semua aktivitas hingga menyatukan block-block tersebut untuk dirangkai menjadi sebuah satu kesatuan yang bisa dinikmati sama-sama dan menghasilkan sesuatu sama-sama untuk bersama.

Pertanyaanya, bagaimana jika seorang founder/CEO yang sudah susah payah mengumpulkan idea, mengajak tim, membangun band, hingga melakukan rekaman tapi ternyata tidak berhasil menjual lagunya, dan berujung tidak laku dan berujung lagi tim tidak dapat apa-apa karena lagu tidak terjual.

Apa akibatnya yang dia rasakan? dan bagaimana kira-kira rasanya? pusing pasti, capek, lelah pasti..kenapa? dia berpikir untuk membuat idea lagu saya sudah butuh effort, pikiran belum lagi mengumpulkan timnya, belum lagi melakukan proses pembentukan tim, motivasi dan membuat sebuah lagu. Dan ketika harapannya lagu itu bisa “Membayar” apa jerih payah semua itu, tapi ternyata akhirnya belum berhasil. Tidak semua orang bisa menerima.

Lalu bagaimana nasib team yang dibentuk? ujungnya adalah mereka juga kecewa, tapi mereka hanya bisa kecewa dengan founder yang mengajak awalnya. jadi sebenarnya beban utama ada pada pundak founder tersebut, dan arah keputusan kedepannya, founder yang tahu apakah dia mau mencoba sekali lagi atau mengakhiri perjalan proses membuat lagu tersebut.

Lagi-lagi, sebenarnya itulah alasan kenapa founder harus terus belajar, karena memang dia punya beban disitu, jika dia tidak mau melakukan itu semua lebih baik dia tidak perlu aneh-aneh untuk jadi founder bisa ikut group band lain membuat lagu lain.

Mungkin analogi tersebut sama halnya dengan ketika kita membangun sebuah startup, idea memang penting, semua orang bebas punya idea bagus, tapi setelah itu ada lagi fasenya yaitu membagikan idea tersebut kepada team, belum tentu idea tersebut disukai oleh team lagin disitulah awalnya, setelah semuanya sepakat waktunya implementasi dari situ belum tentu juga berhasil, sehingga serangkaian proses tersebut merupakan sebuah perjalanan panjang, yang inti dari semua itu harus punya sebuah tim/group band yang solid, setia dalam prosesnya dan tidak menuntut lebih dulu diawal, ini penting karena saat membangun kita tahu tugas utama founder adalah memastikan agar semua proses dari awal sampai akhir bisa menghasilkan sesuatu yang itupun untuk bersama, tapi faktanya tidak semua bisa menghasilkan sampai akhir, sehingga nilai proses dan kesabaran juga jadi pokok penting saat membangun sebuah karya baik itu dalam bidang bisnis ataupun startup.

salam, semoga cerita ini bermanfaat,

M. Nahrowi

Related posts

Kegagalan Itu “Penting” sebagai Tanda Kita Pernah Mencoba

M. Nahrowi
9 years ago

Starbucks dan Cerita Dibaliknya? #NgobrolingBranding

M. Nahrowi
5 years ago

Bisnis = Visi = Brand

M. Nahrowi
5 years ago